Saturday, November 7, 2015

Sejuta cerita tempat kerja pertama

  Tahun 2013,ini adalah tahun pertama saya terjun didunia kerja,bisa dibayangin orang pertama kali kerja tu kaya apa,masih bingung khan,yang pasti diawal kita masih nyari temen,kenalan lah istilahnya.bagi sebagian orang kenalan atau interaksi sama orang baru itu mudah,buat gua itu muski belajar ditambah lagi senior saat itu cewek-cewek.kenalan udah,kerjaan selesai diterangin terus mau tanya - tanya apa coba.


Hari pertama kerja udah pasti jarum jam terasa lamaaa berjalan,bawaannya kepengen cepet pulang,waktu istirahat jadi waktu hembusin nafas panjang,maklum khan habis tahan nafas diem - dieman.hari seterusnya sdh mulai terbiasa,sama senior mulai ada interaksi jujur harus diakui senajan berinteraksi kalo sama lawan jenis itu pasti terbates banget.
seiring berjalannya waktu,kerja bisa menjadi sebuah kenikmatan tersendiri,terlebih saat menerima gaji pertama pada masa training kepengen dah sekeluarga traktir makan.buat gua kenyamanan kerja itu disebabkan beberapa hal,diantaranya faktor teman,
Teman sekantor bisa saja adalah sebuah ancaman,karena tidak semua bisa menjadi rekan,yang terpenting sikap kita baik sama siapapun,karena itu bisa jadi nilai lebih buat kita.

Di dalam kerja banyak persoalan yang dihadapin,tidak dipungkiri terkadang persoalan pribadi pun turut menjadi permasalahan.perbedaan usia satu sama lain menjadi warna tersendiri di tempat kerja.
demikian satu hal yang saya rasakan ketika ada rekan kerja  baru lulus sekolah,jiwa anak mudanya  seneng-seneng(cari kesenangan) masih nempel.hal-hal semacam ini menjadi ujian tersendiri buat rekan kerja senior,ditambah lagi seniornya itu bukan karena lamanya kerja tetapi ditinggalin rekan kerja lama padahal baru dua tahun kerja.mau tidak mau dah kata SENIOR nancep dikuping,walau sebenarnya kata ini popular buat gue gak enak didengar kesannya senior itu bebas ngebully anak baru.

oke,balik ke cerita anak baru,
Dua tahun  menjadi senior,itu sebuah amanah terberat,belajar memahami anak baru,gua pribadi masih bersyukur senajan anak baru berdatangan ada diantara mereka sudah berpengalaman karena usia lebih,jadi yang terpenting buat gue ngertiin mereka udah cukup walau kadang ngerasa kagak rela kalo minta tuker ship cuman buat jalan-jalan ato buat acara-acara yang bukan lagi jadi kapasitasnya.


Friday, November 6, 2015

Catatan kecil terkait pembakaran REOG

  Beberapa pekan lalu media memberitakan tentang pebakaran sebuah kesenian dari Ponorogo Reog,berbagai reaksi keras bemunculan ,dari sebagian berita menyampaikan bahwa reog yang dibakar adalah rusak,akan tetapi ada yang memberitakan pembakaran dilakukan karena dianggap berhala.entah mana yang benar saya yang kebetulan membaca sebuah postingan dihalaman facebook sedikit kecewa masalahnya banyak komentar negatif  bermunculan,pembelaan yang dirasa enggak cukup masuk akal maklum saja demikian adalah bagian dari perasaan bangga pada eksistensi gharizatun nauk,yang kemunculannya bisa berupa bangga pada diri pribadi,suku,kelompok ataupun bangsa.jika
Bicara soal adat budaya ia terlahir dari sebuah kebiasaan masyarakat.ketika kebiasaan masyarakat baik maka akan melahirkan budaya yang baik pula, memang saya pernah mendengar ada pendapat mengenai berhalanya reog,tidak disembah secara langsung tetapi setiap pementasan ada unsur-unsur kesyirikan entah itu berupa kemenyan atau apalah,didaerah saya pribadi disetiap pemintasan tak lepas dari minuman keras apalagi ditambah lenggak lenggok tari seorang perempuan sesuatu yang amat jelas bertentangan dengan syariat islam.bukan aku tidak bangga budaya sendiri,tetapi kita harus bisa menempatkan tempat yang tepat rasa bangga dan fanatik.cukuplah islam..jika bertentangan ya buat apa dibanggakan,jika memunculkan permusuhan buat apa dilestariin,hanya karena bela budaya kita berani ngomong ganyang negara tetangga,padahal negara tetangga ada muslimnya bukannya sesama muslim saudara...giliran mesjid dibakar, islam dihina dan dilecehkan koq adem ayem???